Saya bernama Iaon (ucapan Yo-Wan. Saya kelahirah di Wales (bagian barat Britannia Raya) tetapi sewaktu berumur dua tahun saya pindah bersama orang tua saya ke Australia. Seperti banyak orang disana saya belajar bahasa Indonesia di sekolah. Alangkah senangnya sewaktu saya diberi kesempatan berkunjung ke Indonesia sebagai siswa pertukaran selama 6 bulan. Saya tinggal bersama keluarga yang baik dekat SMU di Jawa tengah.
Saya cepat mendapatkan teman di sekolah, baik lelaki maupun perempuan. Saya mempunyai hubungan erat dgn kakak-beradik yang bernama Sarah dan Susilo. Kami bertiga pergi kemana2, belajar bersama dan menikmati waktu bersama2. Kami hampir tidak dapat terpisah.
Sebelum saya berangkat dari Australia saya berjanji kepada ibu saya bahwa saya akan menjaga kemurnian saya. Dan walaupun saya sangat menyaangi Sarah, saya berjanji bahwa saya tidak akan melewati batas dgn dia. Paling banyak bergandengan tangan.
Enam bulan itu cepat berlalu dan saya menyadari bahwa dalam hanya beberapa hari saja saya harus pulang ke negeri saya sendiri. Suatu hari sewaktu saya mau pulang dari sekolah, Susilo menjemput saya. Saya mencurahkan perasaan kati saya kepadanya mengenai kakaknya, Sarah. Saya kira ia mengerti semuanya.
Dua hari sebelum saya dijadwal pulang Susilo mengudang saya ke rumahnya, katanya akan ada pesta perpisahan. Saya membawa kenang2an buat Susilo dan Sarah, dan tiba di rumah mereka. Saya sedikit heran karena semua anggota keluarga lain tidak ada di rumah.
Susilo memimpin saya ke kamarnya di mana Sarah berbaring di ranjang Susilo, kemudian di pamitan dan meninggalkan Sarah dan saya sendirian. Saya baru menyadari apa yang direncanakan Susilo.
Saya berdiri sebentar. Sarah memandang saya. Apa yang dilihatnya? Pria yg berumur 18 tahun, yang belum perpengalaman mengenai hal ini. Memang, walaupun 18 tahun saya mirip dgn anak yg lebih muda. Muka saya cerah. Rambut saya pirang-keemasan, alis saya kecoklatan. Saya tidak berbulu kecuali sedikit di ketiak dan memang di daerah kemaluan. Badan Saya 180 cm dan berat menghampiri 60 kg. Saya memakai satu anting di kuping kiri. Saya lebih mirip dgn anak yang berumur 15 tahun, tetapi sewaktu berdiri di depan Sarah dan mulai merasakan penis saya berkeras, saya menyadari bahwa saya sudah dewasa.
Saya duduk dekat Sarah di tepi ranjang Susilo. Dia meminta saya menanggalkan baju dan t-shirt dalam saya. Dia tertawa sedikit melihat badan saya karena saya selalu memakai baju dan t-shirt. Muka dan lengan saya berwarna keperungguan dari mata hari tropik tetapi bagian lain putih bersinar.
Saya kembali duduk bersama Sarah. Dia membuka celana saya. Saya baru bisa melihat buah dadanya, yang elok sekali. Dia membebaskan zakar saya dari celana dalam saya dan mulai merabanya. Penis saya tegak lurus dan berukuran sedang, kira2 10 cm sewaktu keras. Saya kira dia tertarik oleh penis saya yang belum disunat itu. Dia menarik kulup sampai ke unjung zakar saya, kemudian mendorongnya sampai kepala penis terlihat. Ada beberapa tetes cairan jernih yang muncul di tepi zakar saya.
Saya tahu inilah saatnya. Saya melepaskan celana saya dan berbaring dgn Sarah sambil mencium dia. Dia berkata, ku cinta pada mu Mas,Ioan. Saya belum pernah dipanggil mas olehnya, sekedar Ioan saja–dan saya menyadari ada arti yang lebih dalam.
Saya berbaring dengan dia, meraba teteknya.
Dia memegang batan saya dan memimpinnya sampai ke lubangnya. Sebenarnya saya tidak tahu dimana persis letaknya, karena baru kali ini berada bersama perempuan. Dengan lembut dia berkata, dorong mas. Saya menembus ke dalam dan pelan pelan saya mendorong. Saya tidak tahan lama dan dalam beberapa menit saja sperma saya meletus ke dalam tubuhnya. Karena saya jarang bermasturbasi, ada banyak persediaan air mani.
Saya merasa tidak hanya sebadan tetapi juga sejiwa dengan dia. Dalam semua bayangan saya, dalam semua mimpi saya, semua ceritera yg pernah saya dengar, saya tidak bisa memahami sesuatu yang begitu indah, dan suci. Saya tidak mau menarik penis saya keluar, walaupun sudah mulai lunak.
Kami berdua beristirahat sambil memeluk. Beberapa menit kemudian, Susilo masuk ke kamar dan mengatakan bahwa orang tuanya hampir pulang. Saya bangkit dari ranjang dan Susilo memberi saya handuk untuk membersihkan cairan.
Saya cepat berpakaian dan saya mendekati Susilo, merangukulnya dan mengucapkan terima kasih dan mencium dia di dahinya. Saya menduga bahwa dia menonton seluruh adegan, tetapi saya tidak perduli.
Pesta perpisahan terus dan kami makan bersama keluarga Susilo dan Sarah. Saya memberi Sarah sebuah liontin dan celana Levi kepada Susilo.
Sarah dan say telah berjanji bahwa tidak akan ada tangisan sewaktu berpisah, tetapi kami tidak bisa menahannya. Pada saat itu saya berjanji kepada dia dan kepada Tuhan bahwa kami akan menikah. Sebenarnya saya harap bahwa dia kehamilan supaya kami dapat berdua. Tetapi hal itu tidak terjadi.
Setelah hampir setahun surat-menyurat saya kembali ke Jawa dan menikah dgn Sarah. Sekarang kami tinggal di Australia dan menghadiri Universitas sambil mengasuh anak kami, Matther, yang berumur setahun.
Sekianlah pengalaman saya.
912 Views |
1
Processing your request, Please wait....